Pertemuan yang kuimpikan

Kini jadi kenyataan

Pertemuan yang kudambakan

Ternyata bukan khayalan

(Rhoma Irama – Pertemuan)

 

Saya memang penyuka dangdut dan menyukai lagu itu. Entah kenapa saya bisa menyukai lagu dangdut, mungkin karena sejak kecil Bapak selalu memutar lagu Rhoma setiap pagi, setiap hari, lagu yang itu-itu saja. Seperti lirik lagu di atas, pertemuan ke -3 malam ini tidak kalah spesial dibanding pertemuan sebelumnya. Pertemuan dengan Bu Kanjeng (nama asli beliau adalah Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd.) menampar hati saya dalam-dalam.

 


Beliau kelahiran 1961. Artinya saat ini beliau berumur kurang lebih 60th. Walau memulai menulis di usia senja, beliau mampu membuat karya bagus yang tidak sedikit jumlahnya. Beliau juga aktif membantu orang lain untuk menulis sebagai Pegiat Literasi Nusantara. Saya yang setengah umur dari beliau, tak satupun buku yang pernah saya tulis. Saya jadi malu. Bagi saya, beliau adalah inspirasi kartini masa kini. Materi beliau bertemakan “Menulis dengan kekuatan silaturahmi”. Bertugas sebagai moderator adalah Bu Aam dari Lebak.

 

"Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan ditambah umurnya, maka hendaklah menjalin silaturrahmi." (HR. Bukhari)

Silaturahmi mustahil terjalin tanpa sebuah pertemuan dengan seseorang. Barangkali, setiap pertemuan dengan seseorang inilah yang membuat Bu Kanjeng mampu menyelesaikan setiap karya nya. Kalau saya berkaca di pengalaman Bu Kanjeng, silaturahmi ternyata selain melapangkan rezeki dan menambah umur sesuai hadist nabi di atas, juga dapat memberi kekuatan menulis dan sumber inspirasi.

 

Silaturahmi di zaman teknologi ini sudah canggih, bisa tanpa bertemu secara langsung. Apalagi dunia sedang menghadapi wabah pandemi yang memungkinkan kita untuk membatasi diri dalam kerumunan di ruang publik. Silaturahmi bisa dilakukan via handphone. Seperti Grup Kelas Menulis bersama Omjay dkk dan PGRI, yang menurut saya sampai dengan lahirnya tulisan ini juga dibidani oleh kekuatan silaturahmi. Tentunya, silaturahmi dengan orang-orang yang membuat hidup kita semakin positif.

 

Apa sih niat kita dalam menulis?

Sah sah saja sih kalau menulis untuk dapat tambahan angka kredit kenaikan pangkat, bagi guru misalnya. Tapi tidak berhenti disitu, menulis juga berarti berbagi kepada orang lain tentang apa yang dipelajari, bisa  melalui blog pribadi, menulis antologi (Keroyokan), kompasiana, gurusiana, atau web yang dimiliki komunitas bersama dan kita diberi kesempatan meramaikan web tersebut.

 

Saya jadi teringat Hukum Newton III yang bisa disebut juga sebagai Hukum Timbal Balik. Aksi = Reaksi. What you get, is what you give. Apa yang kamu berikan, itu pula yang akan kamu dapatkan. Apa yang kamu tanam itulah yang akan kamu tuai. Kalau kita niatkan menulis untuk bisa terus bersilaturahmi, maka silaturahmi lah yang akan terus memberikan kita kekuatan dalam menulis. Empat Jempol untuk Bu Kanjeng.

 

Sekali lagi…

Umur bukan batasan dalam berkarya, khususnya menulis buku. Bu Kanjeng sudah membuktikan kepada kita semua. Jadikan niat dalam menulis, adalah upaya kita untuk terus bersilaturahmi dan menebarkan manfaat bagi sesama. Mencintai kata, menjalin makna, menenun bahasa bersama-sama.

 

Karya Bu Kanjeng

Demikian lah tulisan ini sebelum berakhir, ijinkan saya mengutip sebuah lirik lagu pertemuan dari Bang Rhoma Irama sebagai ekspresi saya yang saat ini sedang mendapat inspirasi dari Bu Kanjeng. Rindu menulis dan membuat buku, serta cinta berbagi kepada sesama akan menjadi kekuatan yang tak tergoyahkan.

 

Rindu yang selama ini sudah menggunung

Mencair diterpa cinta dalam senandung

Cinta yang selama ini masih terpendam

Tercurah sudah penuh dengan kemesraan

11 تعليقات

إرسال تعليق

أحدث أقدم